Tim PJM yang telah menerima informasi tentang penutupan masa pengabdian KKN di Sebandung, segera mengirimkan satu tim untuk bergabung dengan kegiatan tersebut. Jaya, selaku peserta KKN, telah menghubungi kami jauh-jauh hari lewat pesan WhatsApp, "Senin besok, KKN di Sebandung akan melakukan penutupan. Monggo kalau pihak PJM berkenan bergabung untuk meliput dan mengirim beberapa anak yang ingin belajar membuat berita, bisa berangkat bareng sama IBANA yang akan mengisi pra-acara di kegiatan kami."
Pada pukul 14.00, tim kami berangkat bersama IBANA dari base camp PMII KOMPANA. PJM mengirimkan 4 utusan, sementara IBANA berjumlah 6 orang. Perjalanan yang memakan waktu hampir setengah jam tidak mengurangi semangat kami untuk menghadiri pengajian umum dan gebyar Ramadhan yang sudah dinanti-nanti.
Sesampainya di Sebandung, kami langsung disambut oleh Jaya, yang menjadi sie acara di acara tersebut. Kami diarahkan ke ruangan tempat mereka menginap untuk mempersiapkan diri. Balai Desa yang sederhana, disulap oleh teman-teman KKN menjadi tempat yang luar biasa. Panggung yang menghadap ke utara terpasang di halaman Baldes, dengan padepokan menjadi area tamu VVIP, sementara masyarakat duduk rapi di kursi yang disediakan panitia.
Kami sangat terkesan melihat bagaimana mereka mampu beradaptasi dan menyajikan acara penutupan KKN yang sangat berkualitas. Lebih menarik lagi, mereka tidak hanya fokus pada acara, tetapi juga berusaha memberdayakan masyarakat dengan menyediakan stand bagi pedagang lokal, mendukung perkembangan UMKM setempat. Kegiatan ini tidak hanya menjadi penutupan KKN, tetapi juga bukti nyata bahwa mahasiswa adalah agen perubahan.
Hanif, selaku ketua KKN, sempat berbincang dengan kami, "Kami bekerja sama dengan beberapa tokoh masyarakat, dan Alhamdulillah, ketua Karang Taruna Sebandung adalah seorang pengusaha sukses. Beliau menyalurkan donasi berupa panggung dan lighting untuk kegiatan ini." Mendengar penjelasan itu, kami semakin yakin bahwa mereka telah berhasil merancang konsep kegiatan yang luar biasa. Kami bahkan sempat berpikir, bagaimana mungkin acara semegah ini bisa terlaksana dengan dana yang terbatas dari kampus.
Ternyata, dengan niat dan kerjasama yang solid, mereka mampu memberikan hasil yang luar biasa. Ini adalah bukti bahwa dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, semua bisa terwujud, dan mahasiswa benar-benar bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Sorenya, di tengah suasana yang penuh antusias, penampilan Hadroh IBANA mengawali acara sebagai bentuk penyambutan masyarakat dan perangkat desa yang mulai berdatangan. Pemandangan yang indah dengan semangat kebersamaan tampak jelas, meski hujan tiba-tiba mengguyur dan memaksa sebagian orang untuk dipindahkan ke tempat VVIP. Namun, meski hujan menghalangi, tak menyurutkan semangat mereka. Semua tetap bisa berkoordinasi dengan baik, sehingga acara pun bisa berjalan lancar.
"Sekedar perpisahan secara seremonial, bukan berarti kami, teman-teman KKN di Sebandung ini, melupakan tempat kami berdiri. Kenangan bersama panjenengan sedoyo adalah waktu yang tak bisa kami ulangi. Kami akan selalu mengingatnya, dan tak segan-segan mampir ke desa tercinta ini, jika panjenengan mengizinkan," kata Hanif, perwakilan dari teman-teman KKN, dalam sambutannya. Kata-kata itu begitu mengena, tersimpan di hati, karena masyarakat merasa keberadaan teman-teman KKN telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan mereka. Mereka pun tak percaya waktu berjalan begitu cepat. KKN "akan selesai."
Setelah pengajian, acara dilanjutkan dengan berbuka bersama. Masyarakat, tua muda, tokoh masyarakat, serta teman-teman KKN, berkumpul dalam suasana yang penuh keakraban, seakan tak ada sekat yang memisahkan. Kami mengira acara akan berakhir setelah itu, namun Aida menghampiri tim PJM dan menyampaikan bahwa setelah tarawih, masih ada Lailatus Sholawat dan penampilan gebyar tari dari adik-adik desa Sebandung.
Masyarakat yang sudah pulang setelah berbuka kembali memadati kursi-kursi yang tersedia, bahkan hingga ke area luar panggung. Padepokan penuh dengan warga yang antusias, dan terlihat jelas bagaimana Lailatus Sholawat mengalun dengan merdu, menyatukan hati setiap orang yang hadir, ikut bersholawat dengan penuh hikmat.
Setelah itu, giliran tarian dari adik-adik desa yang disiapkan oleh teman-teman KKN perempuan. Mereka tidak hanya melatih, tetapi juga menata riasan dan mempersiapkan segalanya agar anak-anak itu bisa tampil dengan percaya diri. Gelak tawa dan sorak sorai dari penonton menjadi bukti betapa bangganya mereka terhadap penampilan yang luar biasa itu.
Sedikit mundur. Setelah tarawih malam itu, Thoriq dengan santai bercerita kepada kami mengenai sedikit mis komunikasi yang sempat terjadi terkait penyebaran undangan untuk masyarakat sekitar. Ternyata, ada beberapa kebingungannya yang timbul karena pemahaman yang berbeda antara kelompok KKN dan masyarakat mengenai distribusi undangan tersebut. Namun, dengan semangat kebersamaan dan saling pengertian, masalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
KKN Kelompok 5 Desa Sebandung benar-benar menjadi perjalanan yang tak terlupakan bagi setiap anggotanya. Hanif, Jaya, Ja'far, Thoriq, Muiz, Chusairi, Aminah, Khobsa, Mitha, Aida, Hikmah, Nikmah, Cella, Khilya, Fifi dan Nabila, semuanya bekerja dengan hati dan semangat yang tinggi untuk memberikan yang terbaik bagi desa ini. Mereka tahu, meski waktu yang mereka punya terbatas, setiap detik yang mereka habiskan di sini adalah kesempatan berharga untuk belajar dan memberikan manfaat.
Setiap harinya, mereka tak hanya memberikan pengabdian, tetapi juga mendapatkan pelajaran berharga tentang kehidupan masyarakat, tentang kekuatan gotong royong, serta tentang bagaimana membangun hubungan yang saling menguatkan. Mereka mengajarkan berbagai keterampilan, membantu menyelesaikan berbagai masalah desa, dan tidak lupa merasakan setiap suka dan duka bersama warga.
Mereka tahu bahwa KKN bukan hanya tentang memberikan, tetapi juga tentang belajar. Setiap hari yang mereka lalui mengajarkan mereka sesuatu yang baru, tentang ketulusan hati masyarakat, tentang semangat gotong royong yang tak kenal lelah, dan tentang bagaimana menghargai waktu yang tak bisa terulang.
Kelompok 5 Desa Sebandung telah memberikan lebih dari sekadar pengabdian, mereka telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan, tidak hanya di hati masyarakat, tetapi juga dalam diri mereka sendiri. Setiap langkah yang mereka ambil selama dua minggu ini, setiap tawa, setiap kerjasama, dan setiap pelajaran yang didapat, akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjalanan yang memperkaya hidup mereka. KKN ini bukan hanya ladang pengabdian, tetapi ladang pembelajaran yang mereka bawa pulang, menjadi bekal untuk masa depan.
Di penghujung acara, momen yang tak terlupakan terjadi, pemberian cinderamata kepada masyarakat yang diwakili oleh kepala desa setempat. Semua itu menjadi kenangan yang sangat berarti. Acara yang dirancang hanya dalam waktu dua minggu bisa berlangsung dengan semeriah ini, membuktikan betapa besarnya kekuatan kebersamaan dan semangat gotong royong dalam menjalin hubungan yang kuat antara KKN dan masyarakat Sebandung.


Comments
Post a Comment